Light Articles. Read Now!

Table of Content

Malam Terkutuk di Lantai 6

Suara kursi yang digeser dan meja yang terbanting memecah keheningan koridor lantai 6, disusul suara hantaman benda tumpul ke dinding.
malam terkutuk di lantai 6
image by ai

Hotel "Serenity Tangerang" harusnya diganti nama jadi "Anxiety Tangerang". Setidaknya itu yang ada di kepala Cipoet, seorang Aktor kawakan yang hobi melukis yang malam itu sedang stres berat. Bersama Astia (penari kontemporer yang bisa melipat tubuhnya mirip sosis) dan Lody (komponis musik eksperimental yang menganggap suara bersin adalah seni), mereka sedang menginap di lantai 6 untuk proyek kolaborasi seni.

Tangerang malam itu panas, tapi AC di kamar 606 dinginnya seperti lemari es kamar mayat.

Tepat jam 21.00 WIB, teror dimulai.

“DUAK! SREEET! BRUUUKK.., GUBRAAK!!!”

Suara kursi yang digeser dan meja yang terbanting memecah keheningan koridor lantai 6, disusul suara hantaman benda tumpul ke dinding.

Cipoet langsung keluar kamar dengan pallet di tangan kanan dan kuas di tangan kiri siap menjadikannya perisai. Di koridor, Astia sudah keluar dengan posisi siap split karena panik, sementara Lody keluar sambil memegang microphone portabel dan recorder.

"Lu ngapain bawa perekam, Lod?!" bisik Cipoet panik.

"Siapa tahu audionya bisa high fidelity (Hi-Fi) buat latar musik horor gue," sahut Lody, matanya berbinar di tengah ketakutan.

"Sinting! Itu ada yang pasang paku di dinding sebelah!" desis Astia.

Mereka bertiga semua belum mengetahui rumor hotel ini. Bulan lalu, ada berita viral tentang seorang wanita lokal yang dian*ya secara brutal sampai tew*s oleh kekasihnya, seorang WNA (Warga Negara Asing), tepat di lantai 6. Kasusnya menguap karena si WNA kabur ke luar negeri.

Sekarang, jam menunjukkan pukul 22.30 WIB. Gangguan mulai personal.

Pintu kamar Cipoet digedor dari luar. BRAK! BRAK! BRAK! Ketika dibuka, tidak ada orang. Tapi di lantai, ada ceceran darah yang membentuk pola lukisan realis. Cipoet menjerit, "Hantunya menghina aliran seni abstrak gue! Ini penghinaan visual!"

Jam 01.00 subuh, Astia diteror di kamar mandi. Di cermin yang berembun, tertulis huruf kapital dari darah: "HELP ME." Tapi yang bikin Astia merinding komedi adalah di bawah tulisan itu ada koreksi grammar menggunakan pulpen merah: (Should be: Help myself or Call the police).

"Hantunya perfeksionis banget, anjir! Sempat-sempatnya proofreading!" jerit Astia sambil lari ke kamar Lody.

Jam 03.00 subuh, puncak teror terjadi di kamar Lody. Suara langkah berat ala sepatu bot militer WNA terdengar mendekat. TAP. TAP. TAP. Disusul suara tangisan wanita yang diseret di lantai. Suasananya begitu mencekam, bau anyir darah bercampur minyak wangi maskulin murahan memenuhi ruangan.

Ketiganya menepi ke sudut kamar, memegang apa saja. Cipoet memegang tripod, Astia dalam posisi kayang (katanya biar hantunya bingung mana kepala mana kaki), dan Lody menodongkan speaker bluetooth.

Pintu kamar mendadak terbuka sendiri. Sosok bayangan hitam tinggi besar dengan aksen bule kental berteriak lewat angin dingin: "YOU WILL ALL BE HAPPY HERE!" disusul jeritan melengking wanita: "AAARRRGHHHH!"

Mereka bertiga berteriak sekencang-kencangnya, menangis, dan saling berpelukan sampai lemas. Teror suara itu terus berputar secara konstan, menyiksa mental mereka secara audio dan visual hingga menjelang subuh.

Menjelang Subuh

Jam 04.30 subuh. Suasana mendadak hening. Semburat fajar mulai muncul di ufuk timur Tangerang.

Pintu kamar mereka diketuk dengan sopan. Tok... tok... tok...

Bukan gedoran setan. Cipoet dengan gemetar membuka pintu. Di depan mereka berdiri seorang pria paruh baya mengenakan seragam safari, didampingi seorang wanita muda yang memegang berkas, dan seorang pria bule jangkung yang sedang memegang gelas kopi.

"Selamat pagi, Mas-Mas dan Mbak. Maaf mengganggu istirahatnya," ujar pria bersafari itu ramah. "Saya Manajer Hotel. Ini Mbak Ratih dan Mister Hans."

Cipoet, Astia, dan Lody melongo. "Hantu... hantunya sudah pergi?" tanya Lody bego.

"Hantu apa, Mas?" Mbak Ratih tertawa kecil. "Kami dari manajemen hotel mau minta maaf karena semalam lantai 6 agak bising. Kebetulan hotel kami sedang disewa oleh PH (Production House) untuk syuting film layar lebar genre crime-thriller."

Astia menegakkan badannya dari posisi kayang. "Hah? Syuting?!"

"Iya," jelas Mister Hans dengan aksen bule yang persis seperti suara teror jam 3 subuh tadi. "Saya aktornya. Kami syuting adegan reka ulang kasus pembunuhan WNA yang viral bulan lalu itu. Karena kami mau mengejar ambience realistik, kami syuting dari jam 9 malam sampai subuh di kamar ujung koridor."

Cipoet memegang kepalanya yang pening. "Jadi... suara teriakan, hantaman, sama tulisan darah di cermin itu..."

"Oh, tulisan di cermin itu properti kru artistic, Mas. Maaf ya, asisten saya memang lulusan Sastra Inggris, makanya dia gatal kalau lihat grammar salah di properti darah," kata Mbak Ratih sambil nyengir. "Kalau ketukan-ketukan pintu itu kru kami yang salah ketuk kamar saat mau antar konsumsi."

Lody melihat recorder-nya. Dia tidak merekam suara gaib, dia baru saja merekam spoiler film yang belum rilis.

"Oh... jadi gak ada hantu ya? Cuma syuting film toh," kata Cipoet, mendadak lesu karena dramatisasi ketakutan mereka semalaman ternyata zonk.

"Betul, Mas. Sebagai kompensasi karena terganggu, manajemen hotel memberikan voucher sarapan gratis dan late check-out," kata Manajer Hotel sambil menyerahkan kartu.

Mereka bertiga menghela napas lega. Komedi situasi macam apa ini? Mereka sudah ketakutan setengah mati, ternyata hanya korban kurang komunikasi dari pihak hotel. Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaga, mereka turun ke restoran bawah untuk sarapan gratis.

Sarapan yang Kesiangan

Saat sedang mengunyah bubur ayam di restoran lantai 1, Lody iseng membuka ponselnya dan berselancar di Google untuk mencari tahu tentang film yang dibintangi Mister Hans.

Dia mengetik kata kunci: Syuting film kasus WNA Tangerang Lantai 6.

Tidak ada hasil.

Lody mengernyit. Dia lalu mengetik nama manajer hotel yang tadi menemui mereka di kamar: Bapak Sukandar : Manajer Serenity Hotel.

Muncul sebuah artikel berita dari Tangerang Tribun tertanggal dua minggu lalu. Lody membaca judulnya, dan mendadak bubur di mulutnya tidak bisa tertelan. Wajahnya pucat pasi.

Dia menyodorkan ponselnya ke Cipoet dan Astia.

BERITA UTAMA:
"Diduga Stres Karena Kasus Pembunuhan Tak Kunjung Usai, Manajer Hotel Serenity Bersama Dua Stafnya (Ratih dan Seorang Aktor WNA) Ditemukan Tewas Mengakhiri hidup Bersama di Kamar 612 Lantai 6. Hotel Resmi Ditutup Sementara Sejak Minggu Lalu Untuk Penyelidikan."

Di bawah artikel itu, terpampang foto tiga orang yang baru saja mengetuk kamar mereka jam 04.30 subuh tadi untuk memberikan voucher sarapan.

Cipoet melihat ke arah kartu voucher di atas meja. Kartu itu perlahan berubah menjadi selembar daun kering yang layu.

Saat mereka bertiga menoleh ke sekeliling restoran... tempat itu kosong melompong, gelap, berdebu, dan dipenuhi garis polisi. Mereka tidak pernah turun ke lantai 1. Mereka masih berada di lantai 6 yang terbengkalai.
Manusia biasa yang suka membaca, menulis dan berbagi

Posting Komentar