The Hook
Sejak pindah ke rumah tua di pinggiran Sleman ini, aku selalu mendengar ketukan itu. Konsisten, monoton, dan berjarak tepat satu detik. Tik. Tuk. Tuk. Awalnya kukira itu hanya suara metronom kayu milik mendiang istriku, Kinanti, yang tertinggal di ruang kerja atas. Namun malam ini, tepat pukul 02.00, aku memutuskan naik untuk membuangnya karena suaranya mulai membuat kepalaku berdenyut. Ketika kubuka pintu ruangan yang berdebu itu, metronom tersebut ada di atas meja. Keadaannya terkunci rapat di dalam kotak kaca, jarum pemandunya patah menjadi dua, dan mati total.
Namun di dalam keheningan kamar itu, telingaku tetap mendengar detak yang sama. Dan kali ini, suaranya bukan berasal dari meja. Melainkan dari bawah lantai tempatku berdiri.
The Deepening Mystery
"Kau terlalu banyak bekerja, Damar," kata bayanganku di cermin kamar mandi keesokan paginya. Lingkar hitam di bawah mataku sudah menyerupai memar. Sebagai seorang arranger musik, keheningan adalah modal utamaku. Namun sekarang, keheningan menjadi musuh paling intim.
Aku mencoba fokus pada proyek aransemen lagu instrumental yang tenggat waktunya tinggal tiga hari. Aku memakai headphone kedap suara, menaikkan volume master track di layar monitor hingga memenuhi telinga. Nada-nada piano murni yang kugubah mengalun, mencoba menenggelamkan segalanya.
Namun pada birama ke-16, ada yang ganjil.
Ada suara ketukan asing yang menyusup di antara frekuensi rendah. Tik. Tuk. Tuk. Ritmenya tidak mengikuti tempo lagu yang kuatur di 90 BPM. Ketukan itu konstan di 60 BPM. Persis seperti detak jantung yang tenang. Atau detak jam dinding yang sekarat.
Aku menekan tombol mute pada semua instrumen satu per satu. Piano mati. String mati. Bass mati. Jalur gelombang audio di layar benar-benar rata, sebuah garis lurus yang menandakan kesunyian mutlak.
Tapi suara ketukan itu masih mengalir lewat headphone-ku.
Aku melepaskan kabel headphone dari audio interface. Arus listrik terputus. Namun dari tumpukan busa di telingaku, bunyi itu tetap merembes keluar. Tik. Tuk. Tuk. Lebih keras. Kali ini, ada jeda pendek, disusul suara gesekan halus. Seperti ujung jari yang menyeret sesuatu yang berat di atas lantai kayu tepat di belakang kursiku.
The Escalation
Aku berbalik dengan sentakan yang membuat kursi kerjaku terguling. Kosong. Hanya ada bayangan lemari buku yang memanjang akibat cahaya lampu meja yang temaram.
Aku mulai membongkar seisi rumah. Logika fungsional dalam kepalaku menuntut penjelasan ilmiah. Apakah ini gejala tinnitus? Ataukah ada masalah grounding listrik pada speaker aktifku? Aku memeriksa setiap sudut. Aku mencabut semua kabel, mematikan saklar utama rumah hingga seluruh ruangan tenggelam dalam kegelapan total.
Dalam gelap, indra pendengaran menjadi seratus kali lebih tajam.
Ketukan itu tidak hilang. Ia justru merayap mendekat. Sekarang aku tahu dari mana asalnya. Bukan dari dinding, bukan dari bawah lantai, bukan juga dari headphone. Suara itu bergaung dari dalam tempurung kepalaku sendiri.
Setiap kali ketukan itu berbunyi, ada satu kilasan memori yang mendadak muncul di benakku. Kilasan yang selama setahun ini terkunci rapat.
Tik. (Wajah Kinanti yang pucat di kursi roda).
Tuk. (Botol-botol obat penenang yang kosong di atas meja makan).
Tuk. (Suara argumen kami malam itu, tentang karierku, tentang depresinya yang tak berkesudahan).
"Hentikan..." bisikku, mencengkeram rambutku sendiri di tengah kegelapan ruang tengah. "Hentikan!"
The First Twist
Aku tidak tahan lagi. Malam ketiga tanpa tidur membuat warasku berada di ujung tanduk. Aku memesan taksi daring, berniat pergi ke rumah sakit atau ke mana pun yang bukan rumah ini. Namun saat melangkah ke pintu depan, aku melihat sesuatu di atas meja konsol.
Sebuah buku catatan lama milik Kinanti. Buku harian psikologinya. Aku membukanya acak di bawah sorot lampu ponsel. Halamannya penuh dengan coretan tangan yang gemetar.
“Damar tidak pernah mendengarkanku. Dia selalu sibuk dengan dunianya, dengan aransemennya, dengan ambisinya. Dia bilang aku mengganggu keheningan yang dia butuhkan untuk mencipta. Jika dia sangat menginginkan keheningan, aku akan memberikannya. Aku akan menaruh detak ini di tempat yang tidak akan pernah bisa dia matikan.”
Jantungku berdegup kencang. Tanggal catatan itu adalah sehari sebelum Kinanti ditemukan tewas akibat overdosis. Polisi menyatakan itu bunuh diri murni. Aku pun memercayainya. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku adalah suami yang berduka, yang terpaksa pindah rumah untuk melupakan trauma.
Tapi mengapa halaman berikutnya di buku ini basah? Dan mengapa ada bau anyir yang mendadak menusuk hidung?
The Climax & Ultimate Twist
Aku membalik halaman terakhir buku itu. Di sana, tertempel sebuah foto instan yang diambil dari sudut atas kamar tidur kami yang lama.
Di dalam foto itu, Kinanti sedang berbaring di tempat tidur, matanya terpejam. Di sampingnya, berdiri seorang pria yang sedang memegang gelas berisikan air yang sudah dicampur gerusan obat penenang dalam dosis mematikan. Pria itu menatap lurus ke arah kamera dengan senyum dingin.
Pria itu adalah aku.
Seketika itu juga, dinding delusi yang kubangun selama setahun runtuh. Otakku telah melakukan repressive memory (sebuah mekanisme pertahanan psikologis yang ekstrem untuk menghapus rasa bersalah.) Aku tidak berduka atas kematiannya. Akulah yang membunuhnya. Aku memalsukan semuanya dan meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak bersalah hingga aku benar-benar percaya pada kebohongan itu.
Ketukan di dalam kepalaku mendadak berhenti.
Kesunyian yang teramat sangat menyelimuti ruangan. Kesunyian mutlak yang selama ini kuburu untuk menyelesaikan karya terbaikku.
Lalu, di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah suara bisikan yang sangat kukenal terdengar tepat di lubang telinga kiriku. Dingin, lembap, dan sedekat embusan napas.
"Sekarang aransemen kita sudah selesai, Damar. Mari kita dengarkan bersama."
Dari arah belakang, sepasang tangan yang dingin dan kaku perlahan melingkari leherku, menarikku masuk ke dalam keheningan yang abadi.
Epilog
Keesokan harinya, para tetangga memanggil polisi karena mendengar suara dengung umpan balik (feedback) yang melengking tinggi dari dalam rumah. Ketika pintu didobrak, petugas menemukan Damar duduk tegak di depan komputer kerjaku yang mati.
Matanya terbuka lebar, menatap kosong ke depan dengan ekspresi ketakutan yang membeku. Hasil otopsi menyatakan ia meninggal karena gagal jantung akibat syok berat yang masif.
Tidak ada tanda-tanda kekerasan atau orang asing yang masuk. Namun, tim forensik menemukan satu kejanggalan di ruang kerja tersebut. Sebuah metronom kayu tua di atas meja, yang jarumnya sudah patah menjadi dua, entah bagaimana caranya... perlahan-lahan mulai bergerak kembali.
Tik. Tuk. Tuk.
.png)