![]() |
| image by ai |
Di dalam gerbong yang sepi, aku memakai headphone kedap suara, mendengarkan frekuensi rendah binaural beats untuk menjaga fokus. Namun, tepat saat kereta melintasi daerah terpencil di perbatasan Jawa Tengah, frekuensi di telingaku mendadak berubah.
Ada suara bisikan halus, repetitif, menyerupai pola ketukan polymetric yang rumit, menyelinap di antara desis rel kereta. Saat itu aku hanya mengira itu adalah efek kelelahan ekstrem. Aku tidak pernah tahu bahwa suara itu menolak tertinggal di gerbong kereta.
Misteri Ketukan Misterius di Kamar Kos Jakal
Dua hari setelah tiba di Jakal, Yogyakarta, aku mengurung diri di kamar sewaan untuk menyelesaikan revisi artikel ilmiah mengenai psikologi musik dan neural entrainment. Kamar itu sunyi, terlalu sunyi. Hanya ada meja kerja, tumpukan buku filsafat seni, dan laptop yang terus menyala.
Malam itu, tepat pukul 01.00 dini hari, distorsi itu datang lagi.
Bukan dari headphone. Kali ini suara itu merembes dari dinding semen di sebelah kanan tempat tidurku.
Tik... Tuk-tuk... Tuk.
Ritmenya ganjil, tidak sinkron dengan detak jam dinding, tapi entah bagaimana terasa akrab di telingaku yang terbiasa membedah teori musik. Seperti kode biner yang diketuk dengan ujung kuku yang patah.
Aku mencoba mengabaikannya. "Ini hanya fenomena auditory pareidolia," bisikku pada diri sendiri, mencoba menggunakan logika akademisku sebagai perisai. Otakku yang lelah hanya sedang mencoba mencari pola di tengah kesunyian mutlak.
Namun, ketika aku berhenti mengetik, ketukan di dinding itu juga mendadak berhenti. Ketika aku menekan tombol spacebar di laptop, dinding itu menjawab dengan satu ketukan keras. Tuk.
Ketika Logika Sains Mulai Runtuh
Aku berdiri, berjalan mendekati dinding yang berbatasan langsung dengan koridor luar yang mati. Aku menempelkan telingaku pada permukaan semen yang dingin.
Kesunyian sesaat. Lalu... TAP! Sebuah hantaman telapak tangan dari sisi sebelah membuatku melompat mundur.
Keberanianku runtuh. Aku membuka pintu kamar dengan sentakan keras, siap memprotes siapa pun yang sedang bermain gila di luar. Namun, koridor kos itu kosong. Lampu neon yang berkedip-kedip hanya menerangi lantai ubin yang berdebu. Kamar di sebelahku adalah gudang tua yang terkunci rapat dengan gembok berkarat. Tidak ada orang di sana.
Aku kembali ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat, dan memutuskan untuk tidak tidur. Aku membuka asisten AI di laptop, berniat mengetikkan baris-baris kalimat acak hanya untuk mengusir rasa takut. Namun, setiap kali jemariku menyentuh kibor, ketukan di dinding itu kembali berbunyi, mengikuti kecepatan mengetikku.
Tik-tuk-tuk-tuk-tuk.
Lalu, sebuah notifikasi surel masuk di sudut layar. Sebuah pesan dari pengelola kos, dikirimkan pukul 02.00 malam:
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Besok pagi tim teknisi akan membongkar dinding kamar 302. Kami baru menemukan bahwa pipa air tua yang tertanam di dalam semen kamar Anda mengalami kebocoran tekanan udara, menciptakan efek ketukan hidrolik setiap kali ada getaran di sekitarnya."
Aku mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Dadaku yang sempit mendadak longgar. Pipa air. Itu hanya pipa air. Logika ilmiah memenangkan pertempuran malam ini. Ketakutanku hanyalah hasil dari proyeksi psikologis atas rasa stresku sendiri.
Teror yang Sebenarnya
Aku tersenyum menyadari betapa rapuhnya pikiran manusia jika berada di ambang batas lelah. Aku mematikan laptop, bersiap untuk akhirnya memejamkan mata. Kamar kembali tenggelam dalam kegelapan yang pekat. Aku berbaring di kasur, menghadap ke langit-langit.
Lalu, di tengah keheningan yang baru saja kurayakan, suara ketukan itu kembali terdengar.
Tik... Tuk-tuk... Tuk.
Aku tertawa kecil dalam kegelapan. Itu hanya pipa air, batinku menenangkan diri. Namun, ketukan kali ini terasa sangat berbeda.
- Bukan berasal dari getaran semen dinding di sebelah kananku.
- Bukan berasal dari koridor luar yang kosong.
- Suaranya terdengar sangat dekat, dengan resonansi yang jernih tanpa terhalang lapisan beton tebal.
Aku menoleh perlahan ke arah kiri, ke sisi kasurku yang kosong. Ketukan itu berasal dari bawah kolong tempat tidurku sendiri.
Dan kali ini, disusul oleh suara napas berat yang tersedak, seolah-olah ada sesuatu yang sedang merangkak keluar dari kegelapan di bawah sana, siap mencengkeram kakiku yang gemetar. Pipa air itu memang ada di dalam dinding. Tapi ketukan yang sejak awal kudengar... tidak pernah berasal dari sana.
Epilog
Esok paginya, laptop itu ditemukan masih menyala di atas meja, menampilkan dokumen manuskrip yang belum selesai dengan baris kalimat terakhir yang berulang tanpa henti hingga ribuan halaman: “Ia ada di bawah sini.”
Penghuni kamar 302 tidak pernah ditemukan, meninggalkan semua barang-barangnya tetap utuh, seolah-olah dia menguap begitu saja ke dalam kesunyian malam Jakal yang dingin.
.png)