"kesedihan terdalam tidak lahir dari teriakan atau air mata yang tumpah ruah, melainkan dari keheningan sebuah penerimaan.", (Fillamenta)
Lampu indikator di ruang ICU itu berkedip dengan ritme yang monoton, seolah sedang menghitung sisa waktu yang dimiliki dunia untuk bersikap baik pada Baskara. Di ranjang itu, cowok berusia tujuh belas tahun dengan rambut yang mulai menipis akibat kemoterapi menatap keluar jendela. Langit sore itu berwarna jingga pekat, indah sekaligus menyakitkan.
Di sampingnya, duduk Renata ibunya. Seorang wanita yang senyumnya selalu menjadi jangkar bagi Baskara, meski kini senyum itu tampak begitu rapuh, seperti kaca yang retak dan dipaksa merekat kembali.
"Ibu," panggil Baskara, suaranya parau, nyaris berbisik.
"Iya, Sayang? Ibu di sini." Renata menggenggam jemari Baskara yang terasa dingin. Kulit putranya kian pucat, kontras dengan warna seprai rumah sakit yang putih bersih.
"Kalau nanti malam aku tidur... dan lupa untuk bangun lagi, Ibu jangan marah ya?"
Dada Renata seperti dihantam godam besar. Napasnya tercekat, namun sebagai seorang ibu yang telah menemani putranya bertarung melawan kanker stadium akhir selama tiga tahun, dia tahu dia tidak boleh runtuh di depan anaknya. Dia menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan, lalu tersenyum, senyuman paling berdarah yang pernah dia lakukan seumur hidupnya.
"Baskara capek?" tanya Renata lembut, jarinya mengusap dahi sang putra.
Baskara mengangguk pelan. Setitik air mata lolos dari sudut matanya yang cekung. "Sakit banget, Bu. Di dalam sini... rasanya seperti badai yang nggak pernah selesai. Aku pengen istirahat. Tapi... aku takut Ibu kesepian."
Renata menggigit bibir bagian dalamnya hingga mengecap rasa besi, menahan isak tangis yang mendesak ingin keluar. Dia mendekatkan wajahnya, mencium kening Baskara lama sekali.
"Baskara anak yang hebat. Sudah berjuang sampai sejauh ini, itu lebih dari cukup untuk Ibu," bisik Renata, suaranya bergetar hebat. "Ibu nggak akan kesepian. Kan ada kenangan tentang Baskara di sini," lanjutnya sambil menyentuh dadanya sendiri.
Janji di Lembar Terakhir
Baskara tersenyum lemah. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia menunjuk sebuah buku sketsa usang di atas kabinet kecil yang terletak di samping tempat tidur..
"Aku udah gambar semua tempat yang mau kita datangi kalau aku sembuh. Tapi karena waktunya nggak cukup... Ibu harus janji, Ibu yang dateng ke sana ya? Bawa buku itu. Biar aku bisa lihat lewat mata Ibu."
"Ibu janji, Nak. Ibu janji." Renata akhirnya menyerah. Air matanya luruh, membasahi punggung tangan Baskara.
Malam semakin larut. Detak jantung Baskara di monitor semakin melambat. Remasan tangannya pada jemari Renata kian melonggar. Baskara menatap ibunya dengan tatapan paling damai yang pernah Renata lihat selama tiga tahun terakhir.
"Ibu... terima kasih sudah jadi Ibuku. Aku tidur ya..."
Mata itu perlahan terpejam. Garis di monitor itu berubah menjadi lurus disertai bunyi berdenging panjang yang memekakkan telinga.
Pip------------
Dokter dan perawat bergegas masuk, namun Renata hanya berdiri mematung. Dia tidak berteriak. Dia tidak histeris. Dia hanya menggenggam tangan hangat yang perlahan mendingin itu, lalu membungkuk dan membisikkan kata terakhir, "Selamat tidur, pahlawan kecilku."
Sunyi yang Tertinggal
"Untuk Ibu, matahari di hidupku.Maaf karena aku harus pergi duluan. Jangan menangis terlalu lama, ya? Karena setiap kali Ibu menangis, surga tempatku berada jadi ikut gerimis.Tersenyumlah lagi, Bu. Aku menyayangi Ibu dari tempat yang tidak lagi terasa sakit."
