Light Articles. Read Now!

Table of Content

Kos Putri Mawar 17 - Horor Komedi MASDOLY

Horor komedi kos angker di Yogyakarta: mahasiswa diganggu hantu cerewet dengan kejadian lucu dan menyeramkan.

kisah nyata horor

Malam di Yogyakarta selalu punya dua wajah.

Siang hari, kota itu tampak ramah: suara motor mahasiswa, angkringan yang mengepul, musisi jalanan memainkan lagu lama di dekat Malioboro. Tapi lewat tengah malam, terutama di gang-gang sempit dekat kampus, Yogyakarta berubah seperti seseorang yang diam-diam menyimpan rahasia.

Dan rahasia itu, menurut Dimas, tinggal di kamar nomor 3.

“Aku serius, Mas,” kata Bayu sambil menuang kopi sachet ke gelas plastik. “Kamar itu pernah kosong setahun.”

Dimas mendengus.

“Karena bocor kali.”

“Karena penghuninya kabur.”

“Karena nggak bayar kos.”

Bayu menatapnya datar.

“Karena tiap malam ada suara perempuan nangis dari kamar mandi.”

Dimas tertawa keras sampai ibu kos menegur dari dalam rumah.

Sebagai mahasiswa semester akhir yang baru pindah ke kos murah dekat kampus, Dimas memang terkenal tidak takut apa pun. Menurutnya, hantu hanyalah kombinasi kurang tidur, mie instan, dan tugas kuliah.

Sampai malam ketiga.

Sekitar pukul dua pagi, Dimas terbangun karena suara…

Kreekk…

Pintu kamar mandinya terbuka sendiri.

Padahal tadi sudah dikunci.

Ia setengah sadar, rambut acak-acakan, lalu berjalan malas.

“Mbak… kalau numpang pipis bilang-bilang ya…”

Tidak ada jawaban.

Lampu kamar mandi berkedip pelan.

Tik.

Tik.

Tik.

Lalu terdengar suara perempuan menangis.

Pelan.

Serak.

Seperti orang habis kecewa berat.

Dimas diam.

Bulu kuduknya mulai naik.

Tangisan itu makin dekat.

Dan dari balik tirai kamar mandi muncul sosok perempuan berambut panjang menutupi wajah.

Baju putihnya basah.

Kakinya tidak menyentuh lantai.

Dimas membeku.

Perempuan itu bicara lirih:

“Mas…”

Dimas menelan ludah.

“I-iya?”

“Shampoo-mu yang warna hijau bikin rambutku rontok.”

Sunyi.

“…Hah?”

Perempuan itu mengangkat wajahnya sedikit.

Matanya hitam seluruhnya.

“Tiga malam aku pakai. Parah banget.”

Dimas menjerit sambil melempar gayung.

Besok paginya, satu kos gempar.

Bukan karena penampakan.

Tapi karena Dimas lari keluar kamar hanya memakai celana pendek sambil membawa odol dan rice cooker.

“Aku panik!” katanya membela diri.

Bayu sampai ngakak berguling di teras.

Namun sejak malam itu, kejadian aneh makin sering.

Kadang suara cekikikan terdengar dari plafon.

Kadang pintu kamar terbuka sendiri.

Pernah juga laptop Dimas tiba-tiba mengetik sendiri:

JANGAN TIDUR JAM 3 PAGI.

Di bawahnya muncul tulisan lagi:

BIKIN ASAM LAMBUNG.

Yang paling parah terjadi malam Jumat.

Saat Dimas sedang video call dengan pacarnya.

Tiba-tiba kamera depan memperlihatkan sosok perempuan berdiri tepat di belakangnya.

Pacarnya langsung histeris.

“MAS ADA ORANG!”

Dimas refleks menoleh.

Kosong.

Lalu terdengar suara dari lemari:

“Belakangmu goblok.”

Dimas pingsan.

Akhirnya ibu kos memanggil “orang pintar.”

Namanya Mbah Wiryo.

Usianya sekitar tujuh puluh tahun, tapi jalannya cepat sekali seperti dikejar utang.

Ia masuk ke kamar Dimas sambil membawa dupa dan plastik kresek Indomaret.

“Yang ganggu siapa, Mbah?” tanya Bayu penasaran.

Mbah Wiryo duduk diam beberapa menit.

Matanya memandang langit-langit kamar.

Lalu ia menghela napas panjang.

“Ini bukan gangguan biasa…”

Semua menelan ludah.

“Makhluk ini…”

Ia menunjuk pojok kamar.

“…kesepian.”

Sunyi.

Lalu dari kamar mandi terdengar suara perempuan:

“Iya, mereka kalau malam ngobrol sendiri-sendiri terus…”

Mbah Wiryo mengangguk bijak.

“Dia cuma ingin ditemani.”

Dimas hampir menangis.

“Kenapa saya, Mbah?”

“Karena kamu satu-satunya penghuni yang tiap malam ngomel sendiri waktu main Mobile Legends.”

Malam terakhir sebelum pindah kos, Dimas memberanikan diri bicara pada sosok itu.

“Mbak… saya pindah ya.”

Lampu kamar berkedip pelan.

Lalu suara perempuan itu terdengar lagi.

“Hmm.”

“Makasih nggak ganggu berlebihan.”

Diam sebentar.

Kemudian:

“Mas.”

“Iya?”

“Tolong hapus history laptop sebelum pindah.”

Dimas langsung pucat.

“Lho kok tahu?!”

Tirai kamar mandi bergerak sendiri.

Dan untuk pertama kalinya Dimas mendengar suara hantu tertawa.

Sampai sekarang, kos itu masih ada di salah satu gang sempit Yogyakarta.

Dan menurut cerita mahasiswa sekitar, kamar nomor 3 kadang masih terdengar suara perempuan tengah malam.

Bukan menangis.

Melainkan mengomel:

 “JANGAN TARUH HANDUK BASAH DI KASUR, MAS!”


Manusia biasa yang suka membaca, menulis dan berbagi

Posting Komentar