Tidak peduli diagnosisnya.
Perawat senior menyebutnya kebetulan. Dokter menyebutnya faktor psikologis. Tapi petugas kebersihan tahu satu hal yang tak pernah mereka tulis di laporan:
lampu kamar 303 selalu menyala sendiri jam 03.10, tujuh menit sebelum kematian terjadi.
Gea, perawat baru, tidak percaya cerita seperti itu.
Malam pertamanya jaga, seorang pasien pria berusia 52 tahun dipindahkan ke kamar 303 karena kamar lain penuh.
“Cuma satu malam,” kata dokter jaga.
Gea mencatat semua tanda vital. Normal. Stabil. Pasien bahkan sempat bercanda.
Jam menunjukkan 03.05.
Lorong sunyi. Bau antiseptik terasa lebih tajam dari biasanya.
Jam 03.10 , "klik......."
Lampu kamar menyala terang, padahal saklar tidak disentuh.
Gea berdiri kaku.
Pasien menatap ke sudut ruangan.
“Bu… ada yang berdiri di situ,” katanya pelan.
Tidak ada siapa-siapa.
Jam 03.14.
Monitor jantung mulai tidak stabil.
Gea memanggil dokter.
Jam 03.17.
Monitor lurus.
Keesokan paginya, Gea tidak bisa tidur. Ia meminta arsip lama rumah sakit. Dari catatan yang hampir dihapus waktu, ia menemukan satu laporan tahun 1961.
- Pasien: dr. L.
- Pekerjaan: Dokter jaga malam
- Meninggal: Kamar 303, pukul 03.17
- Catatan khusus: ditemukan berdiri di samping tempat tidur pasien, meski tidak tercatat sedang bertugas.
“Pasiennya belum siap ditinggal.”
Sejak malam itu, setiap pasien yang meninggal di kamar 303 melihat seorang pria berdiri di sudut ruangan, mengenakan jas dokter lama.
Seminggu kemudian, kepala rumah sakit memutuskan mematikan listrik kamar 303 secara permanen.
Sejak itu, tidak ada lagi kematian misterius.
Namun hingga hari ini, petugas keamanan masih melaporkan satu hal:
- Pada pukul 03.10,
- lorong lantai tiga selalu sedikit lebih terang.
- Seolah ada lampu yang menyala…
- di kamar yang sudah tidak terhubung listrik.
Bersambung.......................
